Transparansi Dana, siapa takut
Berawal dari kecurigaan mahasiswa Unsyiah mengenai pengelolaan asset Kampus dan terbatasnya dana kegiatan mahasiswa yang diberikan oleh pihak Biro Unsyiah, akhirnya Pemerintah Mahasiswa (PEMA) Unsyiah dengan beberapa dukungan kelembagaan mahasiswa di perguruan Tinggi tersebut mengadakan diskusi dengan Rektornya, Prof. Dr. Darni M. Daud, MA pada bulan Mei 2007 di lingkungan Universitas Syiah Kuala.
Pengelolaan asset Kampus yang dinilai bermasalah oleh lembaga tertinggi Mahasiswa Unsyiah ini adalah pengelolaan dana gedung AAC Dayan Dawood, Training Center dan Wisma Tugu yang statusnya kini disewakan.
Lebih lanjut, pihak PEMA Unsyiah juga sangat menyayangkan tentang ketidaktransparanan dana yang dikelola oleh pihak rektorat terhadap mahasiswa Unsyiah.
Zulfikar, wakil Presiden PEMA Unsyiah kepada Mediasi, Senin(25/6) di Banda Aceh mengatakan bahwa sebenarnya tidak ada istilah dalam laporan keuangan yang menyebutkan adanya data yang bisa di transparansi dan ada yang rahasia. Karena, menurutnya setiap masyarakat termasuk mahasiswa berhak mengetahui setiap aliran dana dari keuangan Negara dan hal tersebut di atur dalam UUD.
Dalam UUD Nomor 28 tentang peran serta masyarakat, dijelaskan bahwa setiap masyarakat termasuk mahasiswa berhak memperoleh serta mencari informasi tentang Penyelengaraan Negara. Hal tersebut juga tertuang dalam peraturan pemerintah (PP) tahun 2000 yang menjelaskan hak dan tanggung jawab masyarakat dalam mencari informasi.
Oleh karena itu, lanjutnya, hingga saat ini mahasiswa masih sangat mengharapkan agar Rektorat mau sedikit terbuka dengan pihak elemen lain di kampus terutama kalangan mahasiswa dalam masalah pengelolaan asset kampus.
Pihak Rektorat, seharusnya melakukan transparansi masalah finasial dan pengelolaan asset kampus seperti wisma tugu, AAc Dayan Dawood dan training center sejak dulu sehingga tidak ada peseteruan seperti sekarang. Menurutnya yang terjadi sekarang, adalah bom waktu yang telah di tanam oleh pihak rektorat setelah sekian lama.
Tuntutan transparansi keuangan dan asset yang gencar dilakukan oleh mahasiswa dengan dimotori oleh Pemerintahan Mahasiswa (PEMA) Unsyiah belakangan ini adalah karena tidak adanya keterbukaan pihak rektorat. Mahasiswa, lanjutnya menuntut adanya ruang, kebijakan serta mekanisme yang jelas mengenai transparansi tersebut.
Kalau perlu, lanjutnya, rektorat membuka website yang menjelaskan semua perincian pengeluaran anggaran serta asset ini. Karena selama ini, dalam website Unsyiah cuma tercantum misi dan visi Unsyiah tanpa adanya transparansi keuangan.
“Kita cuma meminta transparansi dan tidak menuduh mereka telah melakukan korupsi,” kata Zulfikar.
Rektor Unsyiah…
Menyangkut soal transparansi yang belum dilakukan oleh pihaknya sampai sekarang, Rektor Unsyiah, Dr. Darni M. Daud, M.A menjelaskan bahwa pihaknya cuma memegang 44 persen dari total keseluruh dana Spp yang masuk ke Unsyiah tiap semesternya dengan jumlah sekitar 12 miliar.
Dari dana tersebut, menurutnya yang masuk ke rektorat berkisar 600 juta dan kemudiah di bagi-bagikan kepada seluruh jajaran di bawahnya. Sedangkan 56 persen lainnya kembali ke tiap fakultas masing-masing dan dikelola oleh pihak Dekanan.
Kalau di analisis, lanjutnya, 12 miliar dana Spp yang masuk ke Unsyiah persemesternya ternyata masih jauh lebih kecil dari beasiswa yang di berikan pihak rektorat kepada mahasiswa dengan jumlah 37 sumber yang mencapai 20 miliar dan hal ini adalah salah satu daya pikat Unsyiah, katanya.
Dari 18 juta kebutuhan mahasiswa pertahun, tambahnya, Cuma 4 sampai 5 juta dana yang berasal dari Spp mahasiswa dan selebihnya sekitar 13 juta terpaksa di cari pihak rektorat melalui sumber lain. Salah satu caranya, menurutnya adalah dengan menswastakan asset kampus seperti AAC Dayan Dawood, wisma tugu serta training centre.
Pendapatan wisma tugu, lanjutnya lagi sekitar 70 juta pertahun dan AAC Dayan Dawood berjumlah sekitar 440 juta pertahun. Kedua tempat ini, sebelum di swastakan harus di subsidi dan menghabiskan dana kampus yang tidak sedikit.
Untuk beban listrik dalam lingkungan Universitas Syiah Kuala saja, kata Darni, dalam satu tahun membutuhkan biaya sekitar 2 miliar. Hal tersebut belum termasuk biaya perawatan dan hal lainya seperti dana operasional asrama mahasiswa yang belum sepenuhnya selesai. Dana Unsyiah sangat kecil dan sangat terbatas.
Dalam rangka persiapan menuju Unsyiah yang BHP (Badan Hukum Pendidikan) tanpa subsidi pemerintah tahun 2010 nanti, pemerintah memberikan izin kepada Unsyiah untuk meswastakan asset kampus tersebut dan hal itu harus dilakukan sejak dari sekarang sebagai transisi, katanya..
Dalam laporan keuangan Negara ada sistim tersendiri dan rahasia yang tidak bisa dibuka kepada publik. Pengawasan Unsyiah sendiri, kata Darni memiliki pengawasan rangkap yaitu pengawasan dari dalam ( internal) dan pengawasan oleh Negara (eksternal) sehingga dijamin penjagaannya.
Lebih lanjut Darni mengatakan mengenai tuntutan yang dilakukan oleh mahasiswa, beberapa pekan lalu adalah suatu ketidak mengertian mereka akan hal ini.
Soal penghapusan asset kampus
PEMA Unsyiah
Menyangkut penghapusan aset” pesawat terbang” kampus dari daftar buku primer tahun 2004 sampai sekarang, PEMA Unsyiah menyatakan bahwa hal tersebut adalah sebuah kesalahan yang dilakukan oleh pembuat daftar buku primer Unsyiah karena menghilangkan aset negara, padahal dalam buku primer tahun 2003 dan 2002, aset tersebut tidak lagi dicantumkan, katanya.
“Kalau rusak, seharusnya dibuat rusak dalam buku primer untuk tahun 2004 sampai sekarang. Namun tidak dilakukannya dan ini sebuah kesalahan, baik sengaja atau tidak,” kata Zulfikar.
Humas Unsyiah
Kabag Humas Unsyiah, Drs. A.Wahab Abdi kepada Mediasi, Senin(25/6) di Banda Aceh membenarkan bahwa Unsyiah pernah memiliki pesawat terbang tipe capung ketika masih dipegang oleh Rektor Abdullah Ali dan hal tersebut sudah berlangsung lama. Pesawat terbang tersebut di berikan oleh Presiden Soeharto dan sekarang telah rusak dan tersimpan di Sumatra Utara, Medan.
Namun, dirinya mengakui tidak mengetahui secara pasti mengapa dalam buku primer Unsyiah tahun 2004, pesawat terbang tersebut tidak di muat lagi.